Realitas Sosial #1

Senin, 16 April 2018, saya sengaja mengambil cuti dan menghabiskan waktu untuk beberapa keperluan yang sudah saya rencanakan jauh-jauh hari. Salah satu keperluan saya adalah “menikmati” kehidupan KRL (Kereta Rel Listrik) ibukota di pagi hari dan di hari kerja. Jadilah pagi itu saya bersiap-siap lebih pagi dari biasanya demi lancarnya keperluan saya hari itu.

Banyak orang bilang bahwa kehidupan KRL ibukota pagi hari bak berada di sebuah kardus kecil. Begitu sempit dan tak bisa bergerak. Selama dua tahun lebih menetap di Jakarta, saya belum pernah sekalipun mencoba KRL pagi hari. Sejujurnya, hajat ini adalah salah satu hal yang ingin saya lakukan sedari dulu. Jadilah saya memutuskan bahwa 16 April 2018 saya ingin menunaikan hajat itu.

Saya tiba di Stasiun Pasar Minggu sekitar pukul 06.40 WIB. Tak lama setelah saya masuk ke stasiun, kereta yang saya nantikan tiba. Terlihat dari luar betapa keadaan di dalam kereta penuh dan sesak. Saya tak melihat sedikitpun celah untuk orang dapat masuk ke dalam kereta. Kemudian, kereta berhenti sejenak. Hanya satu hingga dua penumpang yang turun. Namun, puluhan penumpang memaksa masuk ke dalam gerbong yang sepertinya lalat saja tak bisa masuk. Saya pun mencoba masuk ke dalam gerbong. Belum juga kedua kaki saya sampai di gerbong, seorang ibu-ibu memaksa masuk. Alhasil, tempat kami menjadi sangat sempit. Akhirnya, saya memutuskan turun dan menunggu kereta selanjutnya.

Selang lima hingga sepuluh menit, kereta selanjutnya tiba. Keadaan yang sama terjadi. Hanya satu hingga dua penumpang yang turun. Saya mencoba masuk ke gerbong yang sudah sesak. Namun, seorang bapak-bapak memaksa masuk. Saya memutuskan turun dan berlari ke gerbong lain. Akhirnya, tubuh saya berhasil masuk ke gerbong kereta. Namun, saya tak memiliki ruang gerak sedikitpun. Bahkan, untuk sekadar menoleh saja sulit.

Pintu gerbong ditutup. Kereta melaju. Wajah saya tepat menempel di pintu gerbong. Tangan kanan saya terangkat. Tangan kiri terjepit di antara pinggang-pinggang manusia. Tubuh saya tak bisa digerakkan sedikitpun.

Mata saya menerawang jalan yang seakan bergerak berlawanan arah. Di situ saya memulai kontemplasi. “Sejahtera?”, begitu kata pertama yang muncul di pikiran. Orang bilang hidup di Jakarta untuk mencari kesejahteraan. Orang bilang hidup di Jakarta untuk mencari kemapanan. Bukankah apa yang saya (dan orang-orang lain yang berada di KRL) adalah sebuah kontradiksi?

Apa arti kesejahteraan? Apa makna kesejahteraan? Apakah berdesakan tanpa ruang gerak seperti ini dinamakan kesejahteraan? Apakah menghadapi situasi seperti ini setiap pagi dan sore selama lima hari dalam sepekan adalah kesejahteraan?

Terlebih, sebagian dari mereka bukanlah penduduk asli Jakarta. Sebagian dari mereka adalah penduduk kota satelit seperti Bogor, Bekasi, dan Tangerang. Mereka rela berangkat pagi sekali, merelakan waktu mereka untuk melihat anak mereka berangkat sekolah, menempuh perjalanan jauh menuju Jakarta, berdesakan di KRL atau merasakan peluhnya macet di jalanan beraspal, demi suatu kata berjuluk ‘sejahtera’.

Saya teringat akan suatu percakapan dengan teman saya beberapa tahun lalu. Sebuah suara muncul dari dalam jiwa. “Inilah realitasnya. Inilah kondisinya. Inilah keadaannya. Bagiku, ini bukan kesejahteraan. Bagiku, ini bukan apa yang aku dambakan dan cita-citakan. Impianku tak seperti ini. Cita-citaku tak seperti ini. Apa yang bisa kamu perbuat? Diam? Sekadar mengutuk? Solusi apa yang kamu tawarkan?”. Saya terdiam sejenak. Meresapi untaian kalimat yang baru saja mengoceh dari dalam jiwa. “Ya, ini yang ‘kubutuhkan’ di hari ini. Ini yang ‘kunantikan’ di hari ini. Ini adalah salah satu persembahan terindah di hari ini. Aku tak akan menyerah. Entah bagaimana caranya, impian dan cita-cita itu harus tercapai”, begitu kataku bersama jiwa yang tersenyum dari kejauhan.

Advertisements

Waktu #1

Di suatu hari di musim penghujan…
“Besok jangan lupa meeting jam 2 siang ya. Saya sudah booking tempat meeting sejak bulan lalu”, kata seorang di antara mereka.
“Oke, Pak”, jawab salah seorang dari mereka.
“Jangan telat ya. Mari kita budayakan menghargai waktu. Kalau takut besok bakal telat, mohon datang lebih pagi dari biasanya ya. Jangan tidur malam-malam dan jaga kondisi kesehatan ya guys”
“Oke, Pak!”

Keesokan harinya, pukul 14.00.
“Yuk, meeting”, kata seorang di antara mereka.
Mereka bergegas menuju tempat meeting yang sudah dijanjikan.

“Waduh, masih ada yang pakai ternyata. Sebentar ya guys, saya coba ngomong ke orang-orang yang sedang ada di dalam”

Tok tok tok.
“Permisi, Pak. Ruangan ini mau kami pakai saat ini juga. Kami sudah booking sejak bulan lalu”
“Waduh, kami belum selesai meeting-nya, Pak. Boleh minta tambahan waktu 30 menit lagi?”
“Kalau harus ditunda 30 menit lagi, jadual kami bisa kacau, Pak. Sebaiknya bapak dan teman-teman pindah ke tempat lain. Sesuai perjanjian, tempat ini sudah kami booking sejak bulan lalu”
“30 minta aja, ya Pak? Please. Nanggung kalau harus mondar-mandir”
“Lain kali, mohon menghargai waktu ya, Pak”, kata seorang dari mereka sambil tersenyum tipis lalu menutup pintu.

“Kita meeting di tempat lain ya guys. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kejadian ini. Semoga kita bisa menjadi manusia yang lebih baik setelah ini”
“Aamiin. Semangat, Pak”
“Kalian juga, semangat guys”, kata seorang dari mereka sambil tersenyum lebar.

Seadanya saja, Mas

Kisah berikut ini sudah hampir satu bulan berlalu. Namun, setiap kali aku melewati tempat itu, ada rasa haru yang begitu menggebu. Semoga kisah ini bisa menjadi cahaya penerang kalbu.

“Duh, sandal ini udah lama banget nganggur. Masih bagus sih. Sayang kalau dibuang. Coba cari tukang jahit sandal aja deh”, begitu pikirku beberapa bulan lalu. Hingga, hampir sekitar satu tahun berlalu, sandal itu masih tetap di sudut. Terdiam tak terurus. Sebenarnya, selain karena malas, aku juga tidak tahu kemana harus menjahit sandal. Hampir tak kutemui penjahit sandal di sekitar tempatku berada.

Hingga, di suatu hari yang cerah, rasa malas untuk menjahit sandal hilang seketika. Kebetulan, aku ingat bahwa di warung biasa aku membeli makanan ada tukang jahit sandal yang biasa mangkal atau beristirahat di warung itu. Kumasukkan sandal itu ke dalam kantung plastik. Dengan niat membeli makan sambil menjahitkan sandal, kunyalakan motor dan bergegas menuju warung.

Aku memesan makanan di warung itu. Karena sedang ingin menikmati episode terbaru suatu anime, kuputuskan untuk membungkus makanan pesananku. Setelah pesananku selesai, kutanyakan ke pelayan warung itu.

“Pak, tukang jahit di depan kemana ya? Saya mau jahit sandal”, tanyaku.
“Itu di depan kok orangnya. Sebentar saya lihat”, jawab pelayan.
“Owalah, lagi tidur orangnya. Sebentar saya bangunin dulu”, lanjut pelayan.
“Gak usah deh pak. Biarkan istirahat aja. Kapan-kapan saja saya jahitnya”, jawabku.
“Gak apa-apa. (Sambil membangunkan tukang jahit sandal) Mas, mas. Ada yang mau jahit sandal”, kata pelayan.

Sesaat kemudian, tukang jahit sandal itu bangun. Dengan masih mengusap-usap matanya, ia berjalan mengambil sandal yang sudah saya sodorkan. “Ini pak mau jahit sandal. Putus di bagian jepitnya”, kataku. “Oh, cuma ini. Bentar ya mas”, jawab tukang jahit sandal.

Ia kemudian mengeluarkan peralatan jahit dan langsung menjahit sandal. Tak sampai 5 menit, sandal tersebut sudah selesai dan kembali bisa digunakan.

“Ini, Mas”, kata penjahit sandal.
“Wah, terima kasih, Pak. Berapa Pak ongkosnya?”, sahutku.
“Seadanya saja, Mas”, jawab tukang jahit itu.

Sejenak aku salah tingkah…

“Lho, jangan gitu, Pak. Masa seadanya saja. Bapak kan sudah saya ganggu tidurnya tadi. Sudah saya repotin juga. Berapa Pak ongkosnya”, tanyaku.
“Iya, seadanya saja, Mas”, jawab tukang jahit itu.
“Aduh, jangan gitu, Pak. Beneran gak enak sayanya. Biasanya berapa, Pak?”, tanyaku lagi.
“Gak apa-apa mas, seadanya saja”, jawab tukang jahit itu.
“Saya beneran gak enak lho pak. Ini rejekinya bapak. Berapa ya, Pak?”, tanyaku lagi dan lagi.
“(terdiam sebentar sambil membereskan peralatannya)….. Berapa ya, Mas? (kembali membereskan peralatannya)… 5 ribu aja mas”, kata tukang jahit itu.
“(berbicara dalam hati) bapak ini baik banget! 5 ribu terlalu murah untuk kebaikannya!”, begitu kataku dalam hati.

Kuambil uang di dompet (nominal sengaja tidak disebutkan) dan memberikannya ke tukang jahit sandal itu. Kemudian, aku menyalakan motor dan bergegas kembali ke tempatku berteduh. Hingga sampai di kamar, aku masih terharu oleh kebaikan dan kesederhanaan tukang jahit itu. Semoga kebaikannya mendapat balas yang berlipat ganda tak hanya di dunia, tetapi juga kelak di akhirat.

Mengenal Abdullah bin Saba’: Munafik yang Menjatuhkan Khalifah Usman bin Affan

Suatu ketika, teman saya datang dan mengungkapkan keluh kesahnya. “Aku bingung bro. Zaman sekarang ini semuanya serba abu-abu. Aku gak tahu mana yang benar, mana yang salah. Yang ini bilang gini, yang itu bilang gitu. Golongan ini berteriak ini, golongan itu berteriak itu. Yang dibicarakan sama, tapi yang disimpulkan bertolakbelakang. Bangsa kita dalam keadaan darurat kayaknya”, begitu kata teman saya.

“Oh, gampang. Teliti saja apa yang mereka ucapkan. Sesuaikan dengan permasalahan dan metode serta ajaran yang benar. Kalau perkara bangsa kita dalam keadaan darurat, aku gak seberapa setuju sih. Yang aku lihat, bangsa kita ini masih dipenuhi oleh orang-orang jumud, munafik, dan membawa kepentingan yang tidak baik”, begitu jawaban saya.

“Munafik? Gimana maksudnya bro?”, tanya teman saya.
“Nah, kebetulan aku lagi mengulang baca-baca sejarah peradaban. Aku ceritain satu kisah yang aku tahu”, jawab saya.

“Cerita ini tentang peran Abdullah bin Saba’, seorang munafik di jaman pemerintahan Usman bin Affan. Sebelum kesana, aku mau menggarisbawahi bahwa golongan munafik ini sangat dilaknat. Soalnya mereka ini tujuannya memecah belah dan gak suka sama yang namanya persatuan. Kalau dalam konteks cerita ini, berarti orang munafik ingin memecah belah Islam dan gak suka kalau Islam itu kuat. Golongan munafik ini selalu ada dari masa ke masa. Di zaman Rasul, salah satu munafik yang terkenal adalah Abdullah bin Ubay. Bahkan, di sejarah perislaman Indonesia ada juga lho orang munafik. Namanya Snouck Hurgronje. Kalau cerita ini, kapan-kapan aja aku ceritain. Sekarang fokus ke Abdullah bin Saba’ aja”, begitu saya memulai cerita.

“Ketika Usman bin Affan memerintah, fokus beliau adalah pembangunan kemakmuran masyarakat. Khalifah sebelumnya telah berhasil membebaskan daerah yang masih jumud menjadi masyarakat berilmu dan beragama yang benar serta mampu membentuk pemerintahan yang terstruktur dan mapan. Jadi, wajar jika Usman meneruskan kesuksesan khalifah sebelumnya dengan cara mengisi kejayaan dengan memakmurkan masyarakat. Bahasa kekiniannya, pondasi-pondasinya udah ada, mulai dari infrastruktur, kekuatan politik, cendekiawan, dan lain sebagainya. Maka, tinggal gimana caranya itu semua dipoles biar bisa memakmurkan rakyat. Ide-ide beliau sangat brilian. Beliau memperbesar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi agar semakin banyak orang yang bisa ditampung di sana. Secara, umat udah makin banyak, jadi tempat juga harus diperluas. Beliau membangun bangunan khusus untuk mahkamah peradilan, pertanian digalakkan, dan angkatan laut dikuatkan. Beliau juga menyeragamkan Al Qur’an”

“Nah, orang Islam jadi makan banyak. Tapi, gak semua dari mereka memilih Islam karena tauhid. Ada yang karena harta, keuntungan ekonomi, kekuasaan, dan niat menghancurkan Islam dari dalam. Salah satu orang semacam itu adalah Abdullah bin Saba’ dengan pengikut-pengikutnya yang dinamai Saba’iyah oleh sejarawan”

“Abdullah bin Saba’ ini ‘pintar’ orangnya. Dia awalnya propaganda di Mekkah dan Madinah, tapi gagal. Kenapa? Karena keislaman orang-orang di sana kuat dan tidak jumud. Akhirnya dia propaganda ke daerah bernama Kufah dan Mesir. Di sana, ia mendapat banyak pengikut. Nah, di awal-awal propagandanya, targetnya adalah orang-orang yang rendah ilmunya, yang masih jumud, para pendengki, dan mereka yang berlebih-lebihan dengan hawa nafsunya. Jadi, ya seperti itulah karakteristik golongan Saba’iyah. Abdullah bin Saba’ bahkan membuka Al Qur’an dan melakukan tafsir yang salah terhadap surat Al Qashas ayat 85 dengan tujuan agar emosi golongannya tersulut. Dia mengatakan “benar-benar aneh orang yang menganggap bahwa Isa akan kembali tetapi tidak percaya bahwa Muhammad akan kembali padahal berdasarkan Al Qashas ayat 95 Muhammad lebih berhak kembali ke dunia daripada Isa”. Tentu saja, orang-orang yang jumud dan rendah ilmunya terjerumus dengan penafsiran semacam ini. Jadilah mereka percaya kepada Abdullah bin Saba’ tanpa memahami bagaimana tafsir yang benar. Padahal, ilmu tafsir itu kompleks. Ada banyak disiplin ilmu yang harus dilalui sebelum seseorang itu dapat dipercaya sebagai penafsir Al Quran. Di antaranya,  ilmu bahasa arab, ilmu kesinambungan logika, ilmu sejarah, ilmu memahami konteks turunnya ayat, ilmu dasar agama Islam, dan lain sebagainya”

“Tidak hanya itu, Abdullah bin Saba’ ini juga menyebarkan doktrin yang salah mengenai Ali bin Abi Thalib. Kompleks, terstruktur, dan masif banget deh propagandanya ini”

“Golongan Saba’iyah ini propagandanya gak berani ke pemuka-pemuka Islam. Mereka fokus propaganda ke orang Arab Badui. Kenapa? Karena karakter orang Arab Badui waktu itu ilmu agamanya sedikit, berpikiran dangkal, suka perang, dan awal-awal berislam bukan karena tauhid, tetapi tergoda oleh harta rampasan perang. Klop deh jadinya. Ibarat api ketemu minyak tanah”

“Dari situ, gerakan menjatuhkan Usman dimulai. Propaganda di sana sini. Isu di sana sini. Fitnah di sana sini. Padahal, propaganda, isu, dan fitnahnya gak berdasar. Namun, Usman merespon itu semua dengan sangat baik dan bijak. Beliau menjawab semua tuduhan, isu, dan fitnah dengan cara yang elegan. Beliau menjelaskan landasan dasar kebijakan-kebijakan beliau. Mengapa ini, mengapa itu. Semuanya dijelaskan dengan landasan dasar yang mengarah ke inti ajaran Islam, yaitu tauhid dan pembentukan masyarakat yang sejahtera, makmur, cerdas, dan seimbang”

“Akhirnya, golongan Saba’iyah hanya bisa gigit jari ketika umat kembali kokoh imannya karena penjelasan sang khalifah. Namun, yang namanya dengki itu pasti jelek. Akhirnya, kemunafikan Abdullah bin Saba’ berujung pada pemberontakan yang menjatuhkan serta menewaskan Usman bin Affan”

“Gimana bro? Udah ngerti?”, tanya saya ke teman saya.

“Wogh! Ngerti bro! Sip sip! Jadi nambah pengetahuanku”, jawab teman saya.

“Terkait yang aku bilang tadi, kita coba belajar dari kisah ini bro. Ada beberapa hal yang bisa jadi pelajaran buat kita. Pertama, sasaran orang yang suka kehancuran atau orang munafik itu orang-orang jumud atau bodoh, berpikiran dangkal, suka membenci, serta tidak mau berusaha mencari data dan fakta yang sebenarnya. Kita jangan sampai kayak gitu. Malahan, kita harus jadi cerdas dan mau memahami segala hal dari berbagai sisi dan keilmuan agar kita tidak mudah dihasut oleh orang munafik. Ini perintah Allah SWT langsung lho. Coba baca Al Isra ayat 36 dan Az Zumar ayat 9. Kedua, dalam menjawab semua tuduhan, sepatutnya kita mencontoh Usman bin Affan. Kita harus jawab semua tuduhan sesuai fakta dan landasan dasar benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Pun halnya kalau kita mau menuduh. Harus berdasarkan fakta dan landasan dasar yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Ketiga, kita harus selalu mencoba untuk terbebas dari kemunafikan dan kita harus berjuang memberantas kemunafikan. Kemunafikan itu hanya berisi kehancuran. Kalau kita gak mau hancur, ya kita harus melawan kemunafikan itu”

“Wah iya ya. Bahaya besar itu bro kalau sampai terjadi”, kata teman saya.

“Yup!”, sahut saya.
“Kemudian, terkait orang jumud, berpikiran dangkal, suka membenci, dan tidak mau memahami, kita jangan berlebihan benci kepada mereka. Justru tugas kita untuk menyadarkan mereka melalui cara-cara yang elegan yang bisa membuat mereka berpijak di jalan yang benar dan baik sesuai tuntunan Rasul. Kalau kita berlebihan membenci mereka, lalu apa bedanya kita dengan mereka, ye ga cuy?”

“Yoi, bro. Bener banget!”, jawab teman saya.

Dari percakapan di atas, banyak hal yang bisa kita jadikan pelajaran. Namun, seharusnya kita tak terbatas pada pelajaran yang kita dapat. Mari melakukan introspeksi diri. Kita nilai diri kita sejujur-jujurnya, apakah kita termasuk orang munafik? Lalu, kita lihat di sekitar kita, perhatikan orang-orang yang memiliki ciri-ciri sebagai orang munafik. Mereka semua punya kesamaan. Mari berhati-hati terhadap golongan ini. Mereka tidak membawa apa-apa melainkan kehancuran yang sangat.

Kita coba amati di keseharian kita. Mereka yang tidak menepati janjinya. Mereka yang selalu berkata dusta. Mereka yang tidak mengemban amanah. Mereka yang berkata “aku berjuang bersamamu”, tetapi tak beraksi sedikitpun. Mereka yang selalu mengedepankan kebencian daripada kesantunan. Mereka yang menuduh tanpa data dan fakta. Mereka yang ingkar terhadap sumpah setia. Mereka yang tak henti-hentinya menjatuhkan tanpa turut serta membangun. Mereka yang hanya melihat sisi negatif tanpa mengagumi sisi positif. Bisa jadi mereka itu memiliki tanda-tanda orang munafik jika mereka mengetahui. Wallahualam.

#FoodForThought

Menujumu

Bintang-bintang meredup, awan berjalan berhamburan
Bulan tak berpijar, air laut melompat kegirangan
Matahari tak bersinar, daun-daun meranggas mengelupas

Fajar enggan beranjak dari singgasana
Hanya berdiam membisu dan melamun
Menutup matanya, terlarut dalam mimpi

Lalu kemana rindu ini mencari empunya?
Haruskah kugemakan alam semesta
Agar kau hadir membawa nirwana

Kupu-kupu berdansa, mengitari mawar merah
Wanginya tersebar mengharumkan sekitar
Durinya tetap runcing, menjaga mawar dari godaan
Akarnya tetap kokoh, menopang diri dari gempuran

Segera selesaikan urusanmu
Lalu biarkan jemari kita menyatu
Dalam temu yang akan kita rajut
Dalam rindu yang menjadi wujud

Esok, senyum kita saling memandang
Esok, janji kita akan terucap
Esok, puisi ini meminta restu
Kepada empu sang pemilik rindu

– Indonesia, 30 Januari 2018

Work-Life Balance

Saya mengamati bahwa sekitar tiga tahun belakangan, salah satu hal yang menarik bagi pekerja adalah work-life balance. Artinya, pekerja memiliki waktu yang seimbang antara pekerjaan dan kehidupan pribadinya. Salah satu contoh work-life balance adalah waktu kerja yang fleksibel. Pekerja bisa masuk dan pulang jam berapapun selama ada kesepakatan yang jelas.

Saya termasuk orang yang setuju dan mendukung fasilitas ini. Di perusahaan saya bekerja saat ini, saya bebas masuk jam berapa saja dan pulang jam berapa saja. Tentunya, tanggung jawab harus tetap dilaksanakan dengan penuh kesadaran.

Beberapa rekan kerja saya juga sangat menikmati fasilitas ini. “Enak banget! Paginya gue bisa lihat anak bangun tidur, sarapan, terus nganter mereka ke sekolah. Habis itu, baru deh gue berangkat kerja”, begitu kata salah satu rekan kerja saya. “Pernah ya, waktu itu istri gue lagi butuh gue banget. Jadinya siang-siang gue balik ke rumah demi istri gue. Habis kelar urusan, balik lagi dah gue ke kantor. Romantis gak gue? Hahaha.”, ucap orang lain.

Well, saya belum pernah menghadapi kedua momen tersebut. Tapi, saya punya momen sendiri kenapa saya menjadikan work-life balance sebagai salah satu nilai yang harus ada dalam sebuah pekerjaan. Setidaknya untuk saat ini (karena mungkin saja ke depan ada nilai lain yang menurut saya lebih penting sesuai dengan konteks saya di masa depan).

Jam kerja yang fleksibel membuat saya bisa memiliki waktu luang lebih di pagi hari. Saya bisa menggunakan waktu lebih itu untuk sedikit merenggangkan otot, mencuci pakaian, menonton hiburan, dan hal lain yang produktif atau sekadar melepas penat. Selain itu, jam kerja fleksibel membuat saya bisa menghindari jam-jam macet di pagi hari. Namun, hal yang paling saya syukuri dari fasilitas jam kerja fleksibel adalah keluwesan saya untuk bisa ada bagi orang-orang terdekat apabila membutuhkan kehadiran saya sewaktu-waktu, entah itu sekadar menemani teman yang sedang butuh teman curhat, menerima tamu yang sudi datang jauh-jauh ke kos hanya untuk bersilaturahmi, atau menjenguk orang-orang terdekat yang sedang tertimpa musibah. Bagi saya, momen-momen seperti itu sangat berharga dan saya sangat bersyukur bisa mendapatkan rezeki berupa jam kerja fleksibel.

Contoh lain dari work-life balance adalah kerja remote, yaitu bekerja tetapi tidak harus berada di kantor. Pekerja bisa bekerja di manapun selama itu memadai. Sebagai contoh, rekan saya terkadang bekerja di kafe.

“Mas, besok saya ijin kerja remote ya? Orang tua saya besok mau operasi. Saya mau nungguin tapi masih bisa disambi kerja.”, ijin salah satu rekan saya ke atasannya kala itu. “Mas, saya ijin kerja remote ya? Saya mau nganterin anak saya lomba. Daripada bengong nunggu, mending saya kerja daripada ambil cuti.”, kata rekan lain. “Mas, cucian saya lagi banyak. Saya kerja di kos ya? Biar bisa nyuci sekalian bersih-bersih kamar kos.”, begitu pinta saya kalau cucian di kos menumpuk atau kamar sedang kumuh-kumuhnya akibat kemalasan yang berlarut-larut. Hehehe.

Saya biasanya memanfaatkan fasilitas kerja remote untuk berada di rumah lebih lama dari biasanya. Saya bisa berada di rumah selama seminggu penuh tetapi tetap bekerja. Berada jauh dari rumah memang memiliki rasa tersendiri. Orang bilang, merantaulah untuk mendapat pelajaran hidup. Namun, berada di rumah tentu juga memiliki rasa yang tak kalah aduhai gembiranya. Orang bilang, pulanglah agar kamu tetap membumi. “Merantau memang menantang, tapi apalah arti itu semua jika kita tak dikelilingi oleh orang-orang terkasih?”, begitu kata salah seorang yang pernah saya temui.

Kebahagiaan bukan melulu soal materi. Mengantar adik berangkat sekolah, menjemputnya ketika pulang, menjawab pertanyaan adik mengenai pelajaran sekolahnya, mengajari dan mendidiknya, melihat ekspresi bahagianya ketika dinyatakan diterima di salah satu universitas, merasakan sedapnya masakan ibu, bersenda gurau mengenai kehidupan di perantauan bersama ibu, melihat raut wajah bapak yang mulai tak mulus, merasakan telur ce

plok buatan adik, menikmati pijatan tangan ibu untuk anaknya yang lelah, mendengar kisah bapak di lingkungan kerjanya, dan masih banyak hal lainnya, itu semua bagi saya adalah kebahagiaan yang tak ternilai harganya.

Ketika SMA dan kuliah, tak jarang saya mendengar cerita tentang orang tua teman saya yang hampir tidak menginjakkan kaki di rumah. Alasannya klasik, orang tuanya sibuk bekerja kesana kemari demi kebutuhan hidup. Bahkan, seorang teman sebangku saya pernah bercerita bahwa saat ia masih kecil, setiap hari papanya berangkat kerja tepat setelah subuh dan pulang jam dua malam. Sejujurnya, jika kelak saya menjadi orang tua, saya tidak ingin hal itu terjadi pada saya. Saya ingin melihat istri saya semakin hari semakin cantik. Saya ingin melihat anak saya tumbuh dan berkembang. Saya ingin menanamkan nilai-nilai baik yang saya pelajari sepanjang saya menghembuskan nafas kepada generasi penerus.

“Tapi kan orang tuanya temenmu kayak gitu demi keluarga”, sahut salah satu seseorang yang saya kenal. Iya, benar. Namun, zaman sekarang menyediakan begitu banyak opsi untuk tetap seimbang antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Jalan itulah yang saya pilih saat ini. Kehidupan pribadi tetap normal, dapur juga tetap ngebul kenceng. Hehehe.

Tahun 2017 sepertinya banyak melunakkan kerasnya hati sang koleris ulung. Membuat saya lebih dan semakin bersyukur akan rezeki yang telah dapatkan selama dan sebelum tahun 2017, bahkan juga di tahun-tahun sebelumnya. Masih bisa melihat adik tumbuh dan berkembang, masih bisa melihat ibu yang sudah mulai menua, masih bisa melihat bapak yang sudah mulai mudah lelah, bagi saya adalah karunia yang entah dengan apa ia dapat digantikan.

– Good Alakazam, 29 Januari 2018

Etos Kerja Sang Penjaga Sekolah

Setelah sholat subuh, kurebahkan diriku sejenak untuk sekadar menuruti kantuk yang masih enggan pergi. Sudah seperti ritual di setiap pagi, aku membuka smartphone-ku dan membaca beberapa pesan yang kulewatkan semalaman. Meski, untuk beberapa pesan aku biasa membiarkannya begitu saja hingga aku lebih dalam keadaan sadar untuk membalasnya. Beberapa saat kemudian, kupasangkan earphone di smartphone-ku, memutar musik, dan berjalan keluar kamar.

Seperti biasa, pagi itu kulewati dengan berjalan kaki. Kulangkahkan kaki setapak demi setapak sembari menikmati alunan nada yang hanya bisa kudengar seorang diri. Di tengah rute, tak lupa kusempatkan mampir di warung nasi uduk untuk kunikmati nanti sebagai pengisi energi di pagi hari. “Setengah ya, Mas?”, tanya bapak penjual. “Iya, Pak. Kayak biasanya ya”, sahutku.

Cukup banyak orang yang rutin aku temui di perjalanan pagiku. Mulai dari lelaki muda berpenampilan rapi yang setiap pagi berjalan cukup jauh untuk sekadar menanti bus di halte, hingga lelaki hampir usia lanjut yang setiap hari rutin berjalan kaki mengelilingi kompleks. Namun, yang paling berkesan adalah sang penjaga sekolah yang kutemui di ujung rute.

Usianya sekitar 40 tahunan, mungkin lebih. Tingginya senormalnya orang Indonesia. Kulitnya cokelat tapi tak pekat. Keriput sudah tampak dominan di raut wajahnya. Seragamnya khas: atasan kemeja gelap, bawahan celana bahan gelap. Tangan kanannya memegang tongkat pengatur jalan. Mulutnya menggenggam erat sebuah peluit.

Aku tidak pernah melihatnya menekuk muka. Setiap hari, dengan wajah ceria dan penuh senyum, ia menyeberangkan murid SD dari satu sisi jalan menuju gerbang sekolah. Bunyi peluitnya selalu sukses menghentikan laju kendaraan dari berbagai arah agar murid-murid dapat menyeberang dengan selamat. Tak hanya itu, ia acap kali menyeberang jalan, membukakan pintu mobil, menuntun murid yang baru turun dari mobil, dan bersama-sama menyeberang jalan. Bagiku, aksi itu sungguh heroik. Selain dapat mengurangi resiko kemacetan, aksinya juga menjamin sang murid sampai dengan selamat di sekolah.

Selama bel belum berbunyi, ia tidak pernah meninggalkan posisinya. Ia berusaha keras untuk memastikan bahwa tugasnya selesai dengan baik. Tak jarang ia turut mengatur pengguna jalan lain agar lebih tertib dan berhati-hati. Semua itu dilakukan dengan sungguh-sungguh. Profesional. Itulah kata yang kusematkan kepadanya.

Dalam hati aku berucap, “aku malu kepadanya jika aku tak bekerja sebagaimana ia bekerja”. Tuhan memang sungguh Maha Bijak dalam memberikan pelajaran bagi hambanya. Tinggal beralih kepada kita, apakah kita juga bijak menerima pelajaran dari Tuhan?

Murid-murid pun memberi penghormatan yang layak kepadanya. Murid-murid yang akan masuk ke sekolah selalu menyalami dan mencium tangan kanannya. Melihatnya saja membuatku merasa ringan, terharu, dan tersenyum. Memang bukan penghormatan materi yang ia dapat, tapi bagiku, penghormatan moral seperti itu jauh lebih berarti dari sekadar materi. Dalam hati sering aku berdo’a agar kelak jika anak-anak itu besar, mereka tak melupakan jasanya.

Beberapa bulan lalu, aku membaca artikel. Seorang murid memberangkatkan guru-gurunya ke luar negeri untuk berlibur. Well, ia menetapkan standar baru untuk berterima kasih kepada orang yang berjasa baginya.

Lalu, kembali ke diriku sendiri. Apa yang telah aku berikan untuk orang-orang yang berjasa bagiku selama ini?